Produk Biji Kelor Pada Tanaman Kelor Umur Tujuh Tahun Dari Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Nusa Tenggara Timur (NTT)

Main Article Content

Sigit Baktya Prabawa

Abstract

ABSTRAK

 

Kelor tumbuh alami di pegunungan Himalaya, lalu diintroduksi ke berbagai wilayah lain termasuk Indonesia. Di Indonesia khususnya di NTT, jenis ini tumbuh di berbagai pulau. Masyarakat NTT umumnya mengambil daunnya untuk sayur, sedangkan bijinya belum banyak dimanfaatkan. Biji Kelor mengandung bahan yang baik untuk kesehatan, kecantikan, pemurnian air, maupun untuk bahan bakar dan sebagainya. Kandungan minyaknya bisa mencapai 35-40%. Karena itu biji Kelor memiliki potensi atau peluang untuk dapat dijual atau memiliki nilai ekonomi yang dapat dikembangkan guna meningkatkan pendapatan masyarakat di NTT. Dalam memanfaatkan biji kelor di NTT, satu diantara informasi yang diperlukan antara lain informasi terkait kuantitas atau produktivitas bijinya yang dihasilkan oleh pohon kelor yang tumbuh di NTT yang mana hal ini akan berguna dalam mengkalkulasi atau mengestimasi produk biji kelor yang akan dihasilkan agar kesinambungan produksi dapat diupayakan. Penelitian bertujuan mengestimasi produk biji kelor yang dihasilkan oleh tanaman kelor berumur 7 tahun dari Kabupaten TTU. Pendekatan dilakukan dengan mengambil 10 pohon contoh kelor secara acak, memanen biji kelor, menghitung polong dan biji kelor, menimbang biji kelor dan sebagainya. Hasil penelitian memperkirakan bahwa dalam 1 hektaree tanaman kelor berumur 7 tahun dengan asumsi jarak tanam 5x5 meter diperkirakan akan di hasil biji sebanyak 13,84-298 kg (biji berkulit) atau sebanyak 11,07-229,48 kg biji tanpa kulit. Dari biji ini diperkirakan akan menghasilkan minyak kelor sebanyak 4,41-108,71 liter minyak kelor yang setara dengan 11-271,78 juta rupiah per tahun.

 

 

 ABSTRACT

 

 

Moringa grows naturally in the Himalayas, then it was introduced to various other regions including Indonesia. In Indonesia, especially in NTT, this species grows on various islands. The people of NTT generally take the leaves for vegetables, while the seeds have not been widely used. Moringa seeds contain ingredients that are good for health, beauty, water purification, as well as for fuel and so on. The oil content can reach 35-40%. Therefore, Moringa seeds have the potential or opportunity to be sold or have economic value that can be developed to increase people's income in NTT. In utilizing Moringa seeds in NTT, one of the information needed includes information related to the quantity or productivity of the seeds produced by Moringa trees growing in NTT which will be useful in calculating or estimating the Moringa seed product that will be produced so that production continuity can be pursued. . This study aims to estimate the product of Moringa seeds produced by 7 years old Moringa plants from TTU Regency. The approach was taken by taking 10 samples of Moringa trees at random, harvesting Moringa seeds, counting Moringa pods and seeds, weighing Moringa seeds and so on. The results of the study estimated that in 1 hectare of 7 years old Moringa plants assuming a spacing of 5x5 meters, it is estimated that 13.84-298 kg of seeds will be produced (skinned seeds) or 11.07-229.48 kg of seeds without skins. From this seed, it is estimated that 4.41-108.71 liters of Moringa oil will be produced, which is equivalent to 11-271.78 million rupiahs per year.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Prabawa, S. B. (2022). Produk Biji Kelor Pada Tanaman Kelor Umur Tujuh Tahun Dari Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Nusa Tenggara Timur (NTT). Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology), 2(2), 89–94. https://doi.org/10.31938/agrisintech.v2i2.369
Section
Articles

Metrics

References

Leone, A, Spada, A, Battezzati, A, Schiraldi, A, Aristil, J, & Bertoli, S. (2016). Moringa oleifera seed and oil: Characteristics and uses for Human Health. Int. J. Mol. Sci. 17(12), 1-14.

Dising, J & Pasau, P. (2021). Karakteristik Fisiko Kimia Minyak Biji Kelor (Moringa oleifera L.). https://jurnal.politanikoe.ac.id/index.php/jp/article/download/479/345

Heyne K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid I & IV. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan.

Jannah, M. (2018). Karakterisasi Buah dan Biji Kelor (Moringa oleifera Lam.) di Desa Salut Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara. (Tesis Pascasarjana). Fakultas Pertanian, Universitas Mataram, Mataram.

Jupriyono. (2017). Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan pangan lokal (kelorisasi) di kelurahan bareng kota Malang. Jurnal Idaman. 1(1), 14-17.

Krisnadi, AD. (2015). Kelor, Supernutrisi. Pusat Informasi Dan Pengembangan Tanaman Kelor Indonesia Lembaga Swadaya Masyarakat. Blora: Media Peduli Lingkungan (Lsm-Mepeling).

Krisnadi, AD. (2017). Keren, Kampung Konservasi Kelor Blora Curi Perhatian Dunia. Diunduh 12 Desember 2020 dari http://www.infoblora.com/2017/04/keren-kampung-konservasi-kelor-blora.html

Nadeem, M. & Imran, M. (2016). Promising features of Moringa oleifera oil recent updates and perspectives. J. Lipids in Health and Disease, 15 (212). https://doi.org/10.1186/s12944-016-0379-0

Paliwal, R. & Sharma, V. (2011). A review on horse radish tree (Moringa oleifera): A multipurpose tree with high economic and commercial importance. Asian Journal of Biotechnology, 3 (4), 317–328.

Kayode, RMO & Afolayan, AJ. (2015). Cytotoxicity and effect of extraction methods on the chemical composition of essential oils of Moringa oleifera seeds. Journal Zhejiang Univ-Sci B (Biomed & Biotechnol), 16(8), 680-689.

Similar Articles

> >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.